Wisdom of Life

Kabah

kabah

Nama-nama Ka’bah dalam Alquran, Selain sebutan “Ka’bah” itu sendiri, Al quran menyebutnya dalam berbagai nama, diantaranya:
1. Ka’bah
“Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia (QS Al Maidah:97)

Dinamakan dengan Ka’bah karena beberapa sebab
a. bentuknya yang persegi empat, dimana orang arab menyebut setiap rumah berbentuk persegi empat dengan Ka’bah
b. karena ketinggiannya dari tanah
c. karena bangunannya yang terpisah dari bangunan-bangunan lainnya.

2. Al-Bait (Rumah)
” Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah  yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” QS Ali Imran/3;96 terdapat juga dalam ayat-ayat lain seperti QS Al Imran 97, Al Anfal 35, Al Hajj 26 serta Quraisy 3.
Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang “Masjid apakah yang pertama kali dibangun dimuka bumi ini?” Rasul menjawab “Masjidil Haram”, setelah itu “Masjidil Aqsha”. Kemudian Ali bin Abi Thalib menimpalinya “Tadinya hanya rumah biasa, namun merupakan rumah pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah”

3. Baitullah (Rumah Allah)
Allah menisbatkannya kepada Dzatnya sendiri “Dan ingatlah ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusiadan tempat aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail “Bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang thawaf,yang itikaf,yang ruku’ dan yang sujud QS Al Baqarah 2;125.
Disebutkan juga dalam QS Ibrahim 37 dan Al Hajj 26. Al Qurthubi menegaskan bahwa menisbatkan rumah (Ka’bah) kepada Diri-Nya sendiri adalah dalam rangka mengagungkan dam memuliakan-Nya , yaitu nisbatnya makhluk kepada Penciptanya.

4. Al-Bait al Haram (Rumah Suci)
“Allah telah menjadikan Ka’bah Rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia…” QS Al Maidah 2.
Menurut Ibn Jauzi dinamakan dengan Haram karena adanya larangan berburu dan mencabut pepohonan di dalamnya, sehingga kesucian nya terjaga. Dan kesuciannya itu  meliputi seluruh tanah suci.

5. Al-Bait al-Atiq (Rumah Pusaka),
” Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada bulan mereka, menyempurnakan nazar,nazar, dan hendaklah mereka melakukan thawaf disekeliling Rumah tua itu (Baitullah) QS. Al-Hajj ayat 29.

6. Qiblat.
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai ( Al-Baqarah ayat 144).

 

Rumah Allah ini dibangun diatas satu dasar pondasi yang kokoh terbuat dari batu marmer, tebalnya kira-kira 25cm. Berikut ini rincian data fisik Ka’bah sebagai berikut :
-    Tinggi seluruh dinding ……………… 15.00 m
-    Lebar dinding utara……………………………10.02 m
-    Lebar dinding barat……………………………11.58 m
-    Lebar dinding selatan………………………10.13 m
-    Lebar dinding timur……………………………10.22 m

NAMA DINDING,oleh para pendahulu dinding-dinding tersebut diberi nama khusus yang ditentukan berdasarkan nama negeri kearah mana dinding menghadap. Terkecuali satu sudut dinding yang diberi nama “Rukun Aswad” karena batu itu terletak disana.

Adapun nama keempat dinding atau sudut (rukun) tersebut adalah sbb :
-    Sebelah utara Rukun “Iraqi” (Irak)
-    Sebelah Barat Rukun “Syam” (Suriah)
-    Sebeleh Selatan Rukin “Yamani” (Yaman)
-    Sebelah Timur Rukun “Aswad” (Hajar Aswad)

Keempat dindingnya ditutup oleh semacam kelambu sutra hitam yang disebut Kiswah dan tergantung dari atap sampai ke kaki. Sejak zaman Nabi Ismail, Kabah sudah dibajui atau diberi penutup dan luar yang disebut Kiswah.

 

 

KISWAH, tiap tahun kiswah diganti pada waktu upacara haji akan dimulai    dan untuk menyemarakkan upacara akbar tahunan itu, Kiswah dipasang lapisan dan disambung dengan kain putih untuk menjadi tanda bahwa Kabah dalam keadaan Ihram. Pada tanggal 10 Zulhijah, ketika Mekah kosong karena jama’ah haji masih berada di Mina, Kiswah dan kain penutup makam Ibrahim diganti dengan yang baru.
Kiswah dihiasi tulisan-tulisan ayat suci Al-quran yang disulam secara khusus dengan benang emas. Salah satu kalimat yang tertera pada sulaman Kiswah itu adalah kalimah syahadat :

 

Lafaznya : Allah Jalla Jalalah, la ilaha illalah,Muhammad Rasulullah
Artinya    : Allah maha agung , tiada Tuhan selain Allah, Muhammad itu pesuruh Allah

 

PINTU KABAH, pada dinding sebelah Timur disampaing Hajar Aswad terdapat pintu yang diberi nama  Al-Burk. Tingginya kira-kira 2 meter dan terbuat dari campuran logam, emas dan perak. Dipintu itu ditatahkan ayat –ayat alqur’an , tentang Ka’bah, haji, shalat dan tauhid. Didalam Ka’bah terdapat 3 buah tiang untuk menopang atap, dan sebuah tangga melalui pintu kecil untuk naik ke atas atap.
KUNCI KA’BAH, pada mulanya kunci Ka’bah dipegang sendiri oleh nabi Ismail kemudian diwariskan kepada putranya Tsabit dan diteruskan kepada anak-anaknya. Lalu diberikan lagi kepada Jurhum, paman-pamannya dari garis ibu, sebelum akhirnya sampai kepada Khaza’ah dan seterusnya hingga sampailah ketangan Qushai ibn Kilab kakek keempat nabi. Setelah pembebasan kota Mekah pada tahun 8H, nabi meminta kunci  dari Utsman ibn Tholhah untuk membuka Ka’bah, lalu beliau masuk kedalamnya dan tidak lama kemudian keluar. Ketika keluar itu beliau bersabda; ” Ingatlah sesungguhnya setiap darah, harta dan perbuatan sewenang-wenang seperti pada masa Jahiliyah adalah dibawah tanggung jawabku untuk mengurusnya, kecuali pekerjaan memberi minum orang-orang yang sedang haji dan menjaga Ka’bah. Sesungguhnya aku telah menetapkan keduanya untuk dikembalikan kepada yang berhak sebagaimana berlaku pada masa Jahiliyah”. Ucapan Nabi itu kemudian diikuti dengan turunnya firman Allah “Sesungguhnya Allah telah menyuruhmu untuk menunaikan amanat kepad yang berhak atasnya”. Rasulullah lalu memanggil Utsman ibn Thalhah dan mengembalikan kunci kepadanya, “ambillah ini wahai Bani Thalhah  untuk selama-lamanya, sehingga tidak ada yang merebutnya kecuali orang zhalim”.
Setelah Ibn Thalhah meninggal, kunci tersebut diberikan kepada anak pamannya (dari garis bapak) yaitu Syaibah dan diteruskan kepada anak-anaknya. Dari sinilah kemudian kunci Ka’bah tersebut diwariskan secara turun temurun. Ucapan Nabi mengenai hal ini juga mengisyaratkan adanya kesinambungan dan keabadian keturunan Bani Abi Thalhah, serta keabadian tanggung jawab mereka mengurus dan  menjaga Ka’bah sampai hari Kiamat kelak.
Ini ialah bagian dari mu’jizat nabi hingga sekarang. Sebab tugas merawat dan menjaga Ka’bah merupakan tugas paling besar dan mulia yang senantiasa diperebutkan oleh manusia, terutama para penguasa dan tokoh-tokoh masyarakat. Yang demikian itu tidak dikehendaki oleh sang Pemilik jagat Raya ini, sehingga justru menyerahkan kepada Bani Syaibah.
Kunci yang sampai sekarang turun temurun ditangan Bani Syaibah tersebut, mempunyai panjang 40cm dan disimpan dalam tas terbuat dari sutera yang dihias dengan emas murni, dan yang dibuat oleh pabrik Kiswah setiap tahunnya.

GEMBOK PINTU KA’BAH,dibuat pada tahun 1399H mengikuti bentuk gembok lama seperti pada masa Sultan Abdul Hamid al-Utsmani tahun 1309H, dengan beberapa rancangan khusus yang disesuaikan dengan bentuk pintu baru. Gembok ini panjangnya sekitar 34cm dengan lebar setiap sisinya 6cm. Pada setiap sisi tertempel lempengan tembaga kuning berukuran 8×3 cm, dibuat pada masa pemerintahan Khalid ibn Abdul Aziz dari keluarga Sa’ud tahun 1399H.

MULTAZAM, Hajar Aswad  terletak dipojok sebelah Timur kira-kira satu setengah meter dari lantai dasar. Dinding antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah yang lebarnya kurang dari 2 meter itu diberi nama dinding Multazam. Di sebut demikian karena inilah salah satu dari tiga lokasi atau tempat paling mustajab untuk memanjatkan do’a kepada Allah. Jamaah yang sudah tawaf biasanya berebut untuk memcurahkan isi hati dan menghadap Allah dengan doa – doa yang biasanya diucapkan dengan air mata bercucuran.

ALMIJAN, didekat pintu kira-kira dihadapan makam (batu tempat berdiri) Ibrahim, terdapat tempat yang banyak dipergunakan orang untuk shalat disebut Almijan. Konon disinilah nabi Ibrahim dan anaknya nabi Ismail berdiri sejenak sebelum bekerja pada waktu membuat Kabah.

MATWAF, bagian tempat tawaf disekeliling Kabah diberi lantai marmer. Hanya sebatas marmer inilah ukuran luas Masjidil Haram dimasa Nabi Muhammad. Tempat ini sekarang disebut Matwaf atau tempat tawaf.

MAQAM IBRAHIM,pintu Bani Syaibah disebelah timur laut Kabah adalah tempat resmi ketempat tawaf. Antara pintu itu dan Kabah terdapat sebuah rumah kecil berkubah hijau , berdinding terali besi. Inilah Maqam Ibrahim, tempat utama untuk mengerjakan shalat. Disebut termpat utama karena disinilah imam berdiri untuk semua macam shalat jamaah di Masjidil Haram.

MAQAM TEMPAT IMAM, tidak seberapa jauh dari dinding Hajar Aswad terdapat sebuah rumah kecil tempat sumur Zam-zam yang sekarang berada di bawah lantai dan sebelah atasnya atas Makam Iman Syafii. Tiga makam lagi yaitu makam Imam Hanafi terletak sebelah barat, makam Imam Hambali disebelah tenggara dan makam Imam Maliki disebelah utara. Dahulu tempat-tempat ini dipergunakan oleh imam tiap mazhab pada waktu shalat lima waktu, sehingga tiap waktu shalat diadakan 4 kali berjamaah menurut mazhab masing-masing. Cara bermazhab ini sekarang ditiadakan.

REHABILITASI, sepanjang sejarahnya Kabah telah mengalami sedikitnya 10 kali pembangunan rehabilitasi yaitu :
-    Pertama oleh malaikat
-    Kedua oleh Nabi Adam
-    Ketiga oleh Nabi Syits bin Adam
-    Keempat oleh Nabi Ibrahim dan Ismail
-    Kelima oleh Suku Amaliqah
-    Keenam oleh Suku Jurhum
-    Ketujuh oleh Qushay bin Kitab
-    Kedelapan oleh Abdul Muthalib
-    Kesembilan oleh bangsa Quraisy
-    Kesepuluh oleh Abdullah bin Zubair

Setelah Quraisy, rehabilitasi dilakukan lagi pada tahun 683M oleh Abdullah bin Zubair yang diteruskan oleh Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi. Adapun yang sampai sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan Sultan Murad IV Al-Usmani pada tahun 1630.

RUKUN-RUKUN KA’BAH, rukun yang dimaksud disini adalah rukun yang mengandung arti harfiahnya “Sudut atau Pojok”. Sudut yang berjumlah 4 buah tersebut yang terdapat pada bangunan Ka’bah, merupakan 4 rukun yang diutamakan didalam manasik haji. Rukun tersebut yaitu Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad disebut “Dua Rukun Yamani” , karena tempat kedua rukun ini menghadap kearah negeri Yaman. Adapun dua rukun lainnya adalah Rukun Iraqi dan Rukun Syam yang disebut juga “Dua Rukun Syamiani” karena keduanya mengarah ke negeri Syam yang sekarang meliputi semua negara yang terletak dipantai Timur Laut Tengah seperti Yordania, Palestina, Suriah dan  Libanon.

SEJARAH KABAH, disebutkan dalam sejarah bahwa pembangunan Kabah berlangsung 10 generasi. Pembangunan pertama dilakukan oleh Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam diciptakan, sebagai tempat thawafnya para malaikat dibumi. Selanjutnya dengan dibantu malaikat, Nabi Adam AS (ke-2) membangun kembali Kabah dan melakukan tawaf. Setelah Nabi Adam wafat , dibangun kembali oleh salah seorang putranya yaitu Syist, dengan menggunakan tanah dan batu. Kabah yang dibuat oleh Syist itu berdiri terus sampai zaman Nabi Nuh AS. Pada zaman Nabi Nuh inilah Kabah runtuh akibat terpaan topan dan banjir yang dahsyat.

Sejarah pembangunan Kabah sampai generasi ke 3 itu tidak terdapat baik dalam Al-quran maupun dalam hadis. Pembangunan Kabah generasi ke -4 dilakukan  oleh Nabi Ibrahin AS dan putra beliau Nabi Ismail AS. Keterangan dimaksud terdapat dalam Al-quran Surat Al-Baqarah ayat 125 yang artinya ;
“Dan (ingatlah) ketika kami jadikan rumah (Baitullah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia, dan dijadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat. Dan kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan rumahku itu bagi orang – orang yang tawaf, yang itikaf, yang ruku dan bagi yang sujud”

Ketika Kabah yang didirikan oleh Nabi Ibrahiim itu runtuh, maka pembangunan yang ke-5 dilakukan oleh suku Amaliqah. Ketika Kabah yang dibangun oleh suku Amaliqah itu hancur,, pembangunan yang ke-6 oleh suku Jurhum, kemudian yang ke-7 diperbaharui oleh Qushai bin Kilab, dimana beliau mengadakan perubahan terhadap ukuran dinding Kabah. Pembangunan ke-8 dilakukan oleh generasi Abdul Muthalib kakek nabi Muhammad SAW. Generasi ke-9 uang membangun Kabah adalah suku Quraisy. Mulai generasi inilah data –data pembangunan mulai dicatat sehingga hal ikhwal ka’bah dapat diikuti melalui berbagai tulisan para sejarawan.

KABAH DITINGGIKAN, generasi ke sepuluh dalam pembangunan Kabah adalah Abdullah bin Zubair, waktu itu menjabat walikota Mekah. Perubahan besar yang dilakukan oleh Zubair adalah meninggikan kabah dari 5 meter menjadi 15 meter, diberi atap, dan pojok utara dibuat tangga untuk naik ke atas loteng serta dihiasi dengan emas. Sepuluh tahun kemudian setelah Abdullah bin Zubair wafat, atas ijin Khalifah Abdul Malik bin Marwan, pintu barat yang dibuat Zubair ditutup dengan alasan untuk mengembalikan bangunan kabah kepada keadaan yang hampir sama dengan yang dibuat oleh Nabi Ibrahim AS.

BANJIR BESAR, pada tanggal 19 Syaban 1039H turun hujan lebat yang terus menerus mulai jam 2 malam sampai menjelang asar dan bersambung lagi sampai besoknya, 20 Syaban . Banjir besar menggenangi tidak saja Kabah dan Masjidil Haram tetapi seluruh rumah penduduk kota Mekkah. Kira-kira seribu orang meninggal waktu itu dan banyak pula hewan ternak yang mati. Sore hari tanggal 20 Syaban 1039 (hari Kamis) runtuhlah sebagian dinding Kabah, yaitu dinding Syami, sebagian dinding timur dan barat serta loteng atap pun ambruk. Menjelang magrib runtuhlah dinding serambi Kabah.
Hiruk pikuk dan  ketakutan melanda masyarakat kota Mekkah, walikota Mekkah saat itu Mas’ud bin Idris bin Hasan segera memerintahkan agar tanggul pintu Ibrahim  yang menjadi saluran air Masjidil Haram segera dibuka. Maka airpun mengalir ke hilir kota Mekkah.
Penjaga Kabah diperintahkan untuk masuk segera ke dalam Kabah dan mengeluarkan semua pelita dan 22 lampu – lampu yang terbuat dari emas. Salah satu diantaranya bertahtakan permata dan mutiara mutu manikam. Barang-barang tersebut diselamatkan dan  disimpan di rumah Syekh Jamaludin Muhammad Abu Qasim Asy Syaibi.

Sejarah perkembangan
Ka’bah yang juga dinamakan Baitul Atiq atau rumah tua adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.
Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (Kira kira 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad namun berkat penyelesaian Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah. Lingkungan Ka’bah penuh dengan patung yang merupakan perwujudan Tuhan bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Tuhan tidak boleh disembah dengan diserupakan dengan benda atau makhluk apapun dan tidak memiliki perantara untuk menyembahnya serta tunggal tidak ada yang menyerupainya dan tidak beranak dan diperanakkan (Surat Al Ikhlas dalam Al-Qur’an) . Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung ketika Nabi Muhammad mebebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah.
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

Bangunan Ka’bah
Pada awalnya bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu serta letak pintu ka’bah terletak diatas tanah , tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi sebagaimana pondasi yang dibuat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.
Karena kaumnya baru saja masuk Islam, maka Nabi Muhammad SAW mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Ketika masa Abdurrahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibuat sebagaimana perkataan Nabi Muhammad SAW atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam (Suriah,Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Nabi Muhammad SAW pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.
Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Ka’bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik

About Author: Wihdah Travel

PT. WISATA IMANI HIDAYAH Adalah sebuah usaha yang bergerak di Biro Perjalanan Wisata dengan mengkhususkan Biro Perjalanan Umroh dan Haji. WIHDAH, beralamat di Ruko NAMIRA Jalan Pengasinan Raya No.73/74 Pondok Hijau Bekasi Timur, No.Tlpn. (021) 82435837 dengan keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manuasia Republik Indonesia No:AHU-29833.AH01.01.Tahun 2010.

Tinggalkan Balasan

Download Untaian Mutiara Nasihat